RSS

Kerugian pada Tiap Butir Nasi

29-3-2017 Ada hal yang menarik dari pengamatan disetiap tempat-tempat makan: kita akan banyak menemukan orang yang menyiakan makanannya meskipun hanya sebutir nasi. Ini fenomena sosial yang nyata. Pernah dalam beberapa kesempatan aku bertanya kepada beberapa rekan tentang perilaku tersebut. Beberapa jawaban ternyata memiliki kesepakatan: bahwa ada suatu struktur sosial ditengah masyarakat berupa nilai atau norma yang mengkonstruksi sebuah pendapat, jika makanan dihabiskan sampai tidak tersisa maka itu menandakan kerakusan dari si pemilik makanan. Dan rakus adalah sesuatu aib yang memalukan bagi tiap-tiap orang dimuka umum.


Anggaplah kita setuju bahwa “rakus” adalah sesuatu yang tidak baik, namun kita perlu diskusikan lagi, perlu rethinking tentang simbol yang mewakilinya itu. Apakah perilaku menghabiskan makanan merupakan interpretasi dari sifat yang memalukan tersebut? Jangan-jangan itu hanya sebuah anggapan yang semu, sebuah simbol-simbol yang terbentuk jauh dari makna yang sesungguhnya. Dan kita terjebak dalam sesuatu perilaku yang merugikan: merugikan secara sosial dan pasti merugikan secara ekonomi!

Agar pesan ini sampai dengan efektif, rasanya tidak perlu membuat suatu tulisan yang panjang lebar mengenai bagaimana perilaku ini erat kaitannya terhadap kerugian yang kita derita hari per hari, minggu per minggu, bulan per bulan, tahun per tahun. Seorang dosen dalam sebuah pertemuan pernah memberikan hitung-hitungan kerugian besar dari perilaku yang kita anggap sederhana itu. Begini kata beliau: anggaplah 1 Kg beras itu = 50.000 butir beras. Jika ada 150.000.000 orang Indonesia saja dalam sekali makan ia menyisakan 1 butir nasi, maka dalam sekali kesempatan kita menyianyiakan 150.000.000 butir : 50.000 = 3.000 Kg atau 3 Ton beras. Jika rata-rata kita makan 2 kali dalam satu hari, maka kerugian kita adalah 6 Ton beras/hari. Dari hitung-hitungan tersebut kita bisa membuat angka kerugian luar biasa berikutnya:

Kerugian: 42 Ton beras/minggu.
Kerugian: 504 Ton/Bulan.
Kerugian: 2.016 Ton/tahun

Meskipun luar biasa, hitung-hitungan di atas sebenarnya berdiri pada pondasi yang rentan pada “keluarbiasaan” akut selanjutnya. Ingat, angka di atas dihasilkan dari asumsi bahwa rata-rata masyarakat meninggalkan satu butir nasi. Sulit rasanya percaya bahwa memang demikian. Bagaimana jika faktanya setiap masyarakat rata-rata meninggalkan 5 butir nasi atau 10 butir nasi, atau lebih? Atau pada asumsi lain, bagaimana jika dalam 1Kg beras itu ternyata hanya terdiri dari 30.000 butir beras? Atau lebih sedikit lagi? Kita pasti makin terperanjat mengetahui bahwa kita memproduksi sebuah kemubaziran yang luar biasa itu, kemubaziran yang menghasilkan kemelaratan bagi sebagian masyarakat yang lain. Ya betul-betul kemelaratan. Harusnya makanan yang kita buang itu bisa bermanfaat bagi orang lain jika saja kita bisa melakukan efisiensi dari gaya hidup kita yang absurd ini. Dan ini lah yang kumaksud sebagai kerugian sosial itu. 

Betul bahwa kita harus tunduk pada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, namun dalam beberapa hal kita butuh memberi asupan tenaga kepada “mesin rasio” kita dalam mengkaji, menganalisis, dan mengkritisi nilai dan norma yang kurang masuk akal adanya. 

Kita tidak hidup pada lingkungan yang memisahkan antara individu dengan kelompok, yang membuat kesan bahwa yang kita lakukan tidak berdampak pada khalayak ramai. Kita hidup dalam dunia kolektifitas yang tidak bisa dipisahkan antara diri sendiri dengan kehidupan orang lain. Dengan demikian kita harusnya sadar bahwa yang kita lakukan akan memiliki dampak pada masyarakat dalam skala makro, lebih-lebih jika perilaku itu juga merupakan perilaku jutaan orang lain. Dan jika sebuah perilaku kolektif itu berwujud sebuah kemubaziran, maka kemubaziran yang luar biasa lah yang kita produksi dalam kehidupan kita.

Apa pesan dari pembahasan kali ini? Sederhana saja, pesannya adalah jangan sia-saiakan makanan. Ambilah makanan secukupnya, yang betul-betul bisa kita makan semuanya, dan tidak ada yang kita sisakan hanya untuk larut dalam nilai dan norma absurd. Sisa makanan bukan simbol yang baik, sisa makanan sungguh merupakan nikmat Tuhan yang kita acak-acak, kita aduk-aduk, dan kita buang pada serendah-rendahnya tempat.

Tidak ada yang perlu ditunggu untuk merubah suatu keburukan yang secara kontinu masih terjadi. Walaupun masalah “meninggalkan butir-butir nasi” ini terkesan sepele, tidak salah juga bagi kita untuk memberi perhatian penuh pada hal tersebut. Tidak hanya memperhatikan, bahkan saling memberi tahu dan memperingati kepada yang lainnya. Bagi pihak yang kurang tertarik karena terbiasa kritis terhadap hal-hal yang lebih besar, yang lebih serius, yang lebih angker, anggaplah ini sebuah “rekreasi” ikhtiar kita dari banyak tema besar yang perlu juga dihantam kritik pada kesempatan lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar