RSS

Pergeseran Pola Pesan Suicide

20-3-2017. Tepat tiga hari yang lalu, jagat media sosial dihentakan dengan berita bunuh diri yang ditayangkan langsung oleh pelakunya melalui media Facebook. Aku tidak akan membahas latarbelakang dan kronologi bunuh diri itu, cukup lah itu menjadi jatah dari halaman-halaman berita nasional yang sudah ada. Aku hanya akan membahas beberapa hal dasar seputar aspek sosiologi pada kasus ini.

Pertama, jika harus dikategorikan kedalam bentuk tipe bunuh diri (suicide) Emile Durkheim, maka bunuh diri yang dilakukan oleh Pahinggar Indrawan ini jelas masuk pada tipe bunuh diri anomik. Bunuh diri anomik terjadi ketika “kemapanan” sosial seseorang terganggu. Bunuh diri seperti ini sangat mungkin terjadi pada individu yang sedang mengalami perubahan sosial yang drastis. Pada kondisi tersebut, individu kehilangan kondisi sosial yang mapan, namun kondisi baru belum tercipta. Pada transisi ini lah individu yang frustasi dan sulit beradaptasi dengan kondisi sosialnya yang baru melakukan tindakan bunuh diri. Pada kasus yang sedang diperbincangkan ini, diketahui bahwa korban adalah individu yang sedang kehilangan istrinya akibat perceraian. Ini lah yang ku isitlahkan sebagai “kemapanan sosial yang hilang”. Romantisme pada masa lalu membawa dampak yang lebih serius, ketika individu yang seharusnya mengkonstruksikan kondisi sosial baru sebagai akibat guncangan-guncangan yang dihadapinya, ia lantas tidak sanggup dan mengalami depresi hebat.

Tipe bunuh diri seperti ini banyak dan mungkin terjadi pada kasus-kasus pergeseran kondisi sosial negatif lainnya, semisal guncangan ekonomi. Gelombang PHK yang besar, selain menciptakan gerombolan pengangguran, kondisi ini juga dapat memicu kasus bunuh diri anomik. Individu yang awalnya memiliki pekerjaan karena PHK lalu ia mengalami depresi ekonomi yang hebat. Kondisi ideal mengharapkan individu yang seperti ini bangkit dan mencari pekerjaan yang baru, namun pada individu-individu yang tidak mampu menciptakan kondisi yang ideal itu, ia lalu akan melakukan suicide.

Kedua. Ini bagian yang paling penting pada diskusi kali ini. Ada pergeseran pola bunuh diri dari kasus ini. Terutama pada pola peninggalan “pesan-pesan terakhir”. Sebelum era informasi saat ini, -dimana media sosial mengintervensi sebagian besar kehidupan nyata kita-, pesan-pesan terkahir yang disampaikan oleh pelaku (mungkin juga korban) bunuh diri lazimnya berbentuk surat. Namun saat ini, teknologi memberi fasilitas penyampaian pesan yang lebih dari sekedar tulisan. Pesan tertulis berubah wujud menjadi frekuensi-frekuensi suara, berubah menjadi gelombang-gelombang cahaya yang teratur membentuk citra sesungguhnya dari apa yang terjadi. Kecanggihan pun membawa citra yang sebenarnya itu dapat tayang pada waktu yang aktual pula, pada waktu yang sebenar-benarnya terjadi. Pada kondisi demikian itu, jadilah apa yang banyak diberitakan media-media dengan judul “bunuh diri live”.

Selanjutnya, pesan-pesan yang awalnya ditayangkan pada kondisi yang aktual tersebut diproduksi ulang oleh banyak orang. Video bunuh diri lalu dimodifikasi sejadi-jadinya, sedramatis-dramatisnya, dan dibuat sedalam-dalamnya menusuk hati setiap orang yang menonton tayangan itu. Ada pula yang menambahkan video dengan backsound melow, ada pula yang memodifikasi dengan cara-cara yang lain, yang intinya adalah untuk membantu pesan yang disampaikan oleh pelaku bunuh diri menjadi lebih kuat lagi, menjadi lebih menyentuh.

Aku tidak berharap kejadian seperti ini terjadi lagi. Cukuplah ini menjadi yang pertama, sekaligus menutup satu sisi gelap perkembangan era informasi saat ini. Namun harapan bukan tanpa kerisauan. Efektifnya penyampaian “pesan-pesan terakhir” melalui metode “live” itu bukan tidak mungkin ditiru oleh orang lain. Sebab, bukankah itu yang diinginkan oleh pelaku bunuh diri. Ia ingin pesannya sampai kepada orang yang ia tuju. Bahkan pada harapan yang lebih tinggi, pelaku juga ingin pesannya itu sampai pada khalayak ramai agar banyak yang tahu bagaimana kondisi yang ia hadapi, yang menyebabkan ia mengambil suatu keputusan terakhir bagi hidupnya.

Metode penyampaian pesan melalui media sosial ini nyata dengan senyata-nyatanya menggantikan efek dramatis dari sepucuk surat yang hanya berisi tulisan-tulisan puitis. Lihatlah video bunuh diri itu yang kini menjadi viral, tersaji bebas pada deretan teratas tranding topic Yuotube yang memiliki jutaan “konsumen” itu, baik dari dalam maupun luar negeri. Komentar kian hari bertambah banyak. Ada yang mengecam, namun tidak sedikit juga yang menaruh simpati, menitipkan sedihnya yang paling dalam di kolom komentar tersebut. Dan tipe komentar terkhir itu menambah suasana yang paling diharapkan andai pelaku dapat membacanya.

Kongklusi dari semua ini adalah: perkembangan jaman sedang mendapatkan tantangan baru. Setiap unit-unit sosial dari yang terkecil (keluarga), sedang (masyarakat, sekolah, komunitas), hingga yang paling besar (masyarakat dunia) harus mulai peduli. Semua unit harus mampu memberi penguatan kepada individu-individu yang berpotensi melakukan kejahatan bunuh diri seperti ini. Ya, ini betul-betul kejahatan. Setiap nyawa harusnya tidak boleh hilang begitu saja oleh siapa pun, termasuk oleh dirinya sendiri, oleh tubuhnya sendiri, dan oleh keadaan-keadaan yang paling memaksa sekalipun.

Tuhan adalah seadil-adilnya pembalas bagi setiap tindakan manusia.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar