4-3-2017 Sejarah pernah mencatat, bahwa
dimuka bumi, dimukanya hidup rakyat tertindas, pernah terlahir seorang
humanis yang begitu lantang berteriak perihal ketidak adilan. Ia menjadi sulut
perjuangan kelas buruh di mana-mana tempat. Bahkan ia menjadi satu-satunya
pemikir yang memiliki suatu gerakan politik khas dan nyata sesuai dengan
namanya: Marx.
14 Maret 1883, Marx melepaskan perjuangan
untuk selama-lamanya. Keterbatasan umur telah menghentikan kerongkongannya
untuk berteriak menentang ketidak adilan suatu kelompok terhadap kelompok
lainnya. Keterbatasan umur pula yang membuat Marx berhenti menggoyangkan
tangannya untuk menyelesaikan kitab fenomenalnya: Das Kapital.
Namun ada pula yang tidak bisa di batasi oleh
umur Marx itu, yaitu berseminya semangat "persamaan kaum" yang sudah
terlanjur menjangkit seluruh dunia itu.
Di Indonesia, Suakrno pun mengilhami
ajaran-ajaranya itu. Banyak tulisan-tulisan yang menunjukan kepada kita bahwa
semangat perjuangan The Founding Father untuk memerdekakan Indonesia itu erat
dengan semangat Perjuangan Kelas Marx.
Salah satunya adalah tulisan berikut ini.
Tulisan Sukarno yang dibuat untuk memperingati 50 tahun wafatnya Marx.
Kebetulan kalender hari ini menunjukan tanggal yang sama: 14 Maret 2017, 132
tahun terpaut dari kehebohan dunia saat itu atas kematian seorang pejuang
rakyat jelata.
Untuk memperingati kejadian itu, maka masih
relevan lah kiranya "Fikiran Ra'jat" ini kita baca kembali.
--------------------------------
MEMPERINGATI
50 TAHUN WAFATNYA KARL MARX
F.R
nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14 Maret 1933. Pada hari itu, maka
genap 50 tahun yang lalu, yang Karl Marx menutup matanya buat selama-lamanya.
Marx
dan Marxisme!
Mendengar
perkataan ini, -begitulah dulu pernah saya menulis-, mendengar perkataan ini,
maka tampak sebagai suatu bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun
kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat muka dan kurus badan,
pakaian berkoyak-koyak; tampak pada angan kita dirinya pembela dan kampiun si
mudlarat tadi, seorang ahli pikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan
kebiasannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Jermania
yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang “geweldig”, yang
dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan kaum buruh, yakni
Heinrich Karl Marx.
Dari
muda sampai wafatnya, manusia yang hebat ini tiada berhenti-hentinya membela
dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi
sengsara, dan bagaimana jalannya mereka itu akan mendapat kemenangan: tiada
kesal dan capainya (lelahnya, ed.) ia bekerja dan berusaha untuk pembelaan itu:
selagi duduk diatas kursinya, dimuka meja tulisnya, begitulah ia pada 14 Maret
1883, -lima puluh tahun yang lalu (tulisan ini dimuat pada tahun 1933, ed.)-,
melepaskan nafasnya yang penghabisan.
Seolah-olah
mendengarkanlah kita dimana-mana negeri suaranya mendengung sebagai guntur,
tatkala ia dalam tahun 1847 berseru: “E, Kaum Proletar semua negeri, kumpullah
menjadi satu.” Dan sesungguhnya! Riwayat dunia belum pernah menemui ilmu dari
satu manusia, yang begitu cepat masuknya dalam keyakinannya satu golongan di
dalam pergaulan hidup, sebagai ilmunya kampiun kaum buruh ini. Dari puluhan
menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan dari ribuan menjadi laksaan,
ketian, jutaan… begitulah jumlah pengikutnya bertambah-tambah. Sebab, walaupun
teori-teorinya sangat sukar dan berat bagi kaum pandai, maka “amat gampanglah
teorinya itu dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara, yakni kaum
melarat kepandaian yang berkeluh kesah itu”.
Berlainan
dengan sosialis-sosialis lain, yang mengira bahwa cita-cita sosialisme itu
dapat tercapai dengan cara pekerjaan bersama antara buruh dan majikan,
berlainan dengan umpamanya: Ferdinand Lassalle, yang teriaknya ada suatu teriak
perdamaian, maka Karl Marx, yang dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali
memakai kata kasih atau kata cinta, membeberkanlah paham pertentangan klas:
paham klassentrijd, paham perlawanan zonder (tanpa, ed.) damai sampai
habis-habisan. Dan bukan itu saja! Ilmu Dialektik Materialisme, ilmu statika
dan dinamikanya kapitalisme, ilmu Verelendung, -semua itu adalah “jasanya”
Marx. Dan meskipun musuh-musuhnya, terutama kaum anarkis, sama menyangkal
jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan diatas ini, meskipun lebih dulu, di dalam
tahun 1825, Adolphe Blanqui sudah “menjawil-jawil” ilmu Historis Materialisme
itu, meskipun teori harga lebih itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli-ahli
pikir sebagai Sismondi dan Thompson, -maka toh tak dapat disangkal, bahwa
dirinya Karl Marx lah yang lebih mendalamkan dan lebih menjalarkan teori-teori
itu, sehingga “kaum melarat kepandaian yang berkeluh kesah itu” dengan gampang
segera mengertinya.
Mereka
dengan gampang mengerti, seolah-olah suatu soal yang “sudah mustinya begitu”-,
segala seluk-beluknya harga lebih: bahwa kaum borjuis lekas menjadi kaya karena
kaum proletar punya tenaga yang tak terbayar. Mereka dengan gampang mengerti
seluk-beluknya Historis Materialisme: bahwa urusan rezekilah yang menentukan
segala akal pikiran dan budi pekertinya riwayat dan manusia. Mereka dengan
gampang mengerti seluk-beluknya dialektika: bahwa perlawanan klas adalah suatu
keharusan riwayat, dan bahwa oleh karenanya, kapitalisme adalah “menggali
sendiri liang kuburnya”.
Begitulah
teori-teori yang dalam dan berat itu dengan gampang saja masuk di dalam
keyakinan kaum yang merasakan stelsel (sistem, ed.) yang “diteorikan” itu,
yakni di dalam keyakinannya kaum yang perutnya senantiasa keroncongan. sebagai
tebaran benih yang ditebarkan oleh angin kemana-mana dan tumbuh pula dimana ia jatuh,
maka benih Marxisme ini berakar dan subur bersulur dimana-mana. Benih yang
ditebar-tebarkan di Eropa itu sebagian telah diterbangkan pula oleh taufan
jaman ke arah khatulistiwa, terus ke Timur, jatuh di kanan kirinya sungai Sindu
dan Gangga dan Yang Tse dan Hoang Ho, dan di kepulauan yang bernama kepulauan
Indonesia.
Nasionalisme
di dunia Timur itu lantas “berkawinlah” dengan Marxisme itu, menjadi satu
nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu itikad baru, satu senjata perjuangan
yang baru, satu sikap hidup yang baru. Nasionalisme-baru inilah yang kini hidup
di kalangan Rakyat Marhaen Indonesia.
Karena
ini, Marhaen pun, pada hari 14 Maret 1933 itu, wajiblah berseru:
Bahagialah
yang wafat 50 tahun berselang!
Fikiran
Ra’jat, 1933.
Sukarno






0 komentar:
Posting Komentar