RSS

Pameran Reproduksi Kekuasaan di Khalayak Ramai


23-6-2017. Ada rasa heran melihat spanduk besar yang menempel di fly over simpang Polda sejak sebulan ini. Rasa-rasanya bahkan jelas sekali kawasan ini masih masuk wilayah administratif Kota Palembang. Namun yang membingungkan spanduk besar itu justru berisi informasi tentang pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Musi Banyuasin. Meskipun hanya informasi pelantikan, aku membaca lebih dari itu. Ada pesan tersirat pemberian ucapan selamat yang berlebihan kepada yang bersangkutan. Berlebihan sebab belum pernah ada spanduk sejenis untuk kabupaten lain.

Memang sulit mengaitkan antara spanduk dengan tempatnya menempel itu kalau bukan karena foto orang nomor satu di spanduk itu adalah anak dari Gubernur Sumatera Selatan saat ini. Dan informasi itu sudah menjadi konsumsi publik bahkan sebelum si anak memenangkan pilkada di daerahnya. Itulah kiranya yang membuat fokus permasalahan kita alihkan bukan pada kabupatennya melainkan siapa yang duduk di atas jabatan kepala daerah itu.

Satu sisi aku bangga melihat fenomena ini. Tapi di sisi lain aku mual. Persentasenya mungkin lebih besar mual daripada bangganya. Bangga ku hanya karena yang bersangkutan, baik ayah maupun anak yang menduduki jabatan kepala daerah tingkat I dan II itu adalah produk dari demokrasi yang sudah kita sepakati secara nasional. Bahkan aku tahu si anak memang terpilih karena masyarakat Kabupaten Musi Banyuasin memang menginginkannya. Karena itulah perolehan suaranya begitu tinggi saat pilkada yang lalu.

Setelah terbuai rasa bangga yang hanya beberapa saat saja itu, aku lalu merasa "mual". Mual melihat drama politik itu. Ku rasa tidak perlu lah itu dilakukan. Semua orang sudah tahu kalau mereka berhubungan darah. Semua tahu bahwa mereka adalah pemenang kontes demokrasi kita. Seharusnya jika saja mereka memiliki rasa rendah hati, hal ini tidak perlu dilakukan. Melakukan hal tersebut justru menunjukan kesan bahwa ada niat yang memang berasal dari hasrat pribadi untuk membangun sebuah dinasti kekuasaan melalui reproduksi kekuasaan dari diri pribadi. Konkretnya: hasrat serakah jabatan. Ini adalah iklim yang tidak sehat di alam demokrasi kita.

Memang tidak/belum ada larangan atas setiap reproduksi kekuasaan seperti itu. Sebab semua orang dijamin oleh negara untuk maju mencalonkan diri menjadi kepala daerah, termasuk anak dari pejabat yang sedang menjabat. Asal rakyat menyetujuinya dengan memberi suara mayoritas maka boleh saja terjadi seperti ini. Dan euforia keluarga atas keberhasilan reproduksi kekuasaan ini boleh saja dilakukan seperti yang kita bahas saat ini.

Namun, berbicara tentang kelayakan tentu berbeda. Dalam kehidupan kita ada hal-hal yang boleh dilakukan dan layak dilakukan, tapi ada juga yang boleh dilakukan tapi tidak layak dilakukan. Pameran reproduksi kekuasaan dengan bentuk apapun, apalagi seperti ini tergolong jenis yang kedua.

Tidak layaklah seorang kepala daerah tingkat I membuat sebuah perayaan yang berbeda hanya karena yang dirayakan adalah anaknya sendiri. Ini akan berdampak pada iklim demokrasi. Demokrasi akan berjalan dengan tidak sehat. Memancing keluarga-keluarga penguasa lain untuk menciptakan monopoli kekuasaan pula, dan secara tidak langsung menekan rakyat untuk tidak masuk dalam garis kontes demokrasi karena bukan anak siapa-siapa. Sehingga yang menjadi orientasi dari sistem demokrasi kita bukan pada kualitas diri tapi menjadi garis keturunan. Hal ini juga kemudian akan meluas kepada sikap persamaan ras, suku, agama, dan golongan tertentu. Sehingga primordialisme merajalela. Selogan-selogan "putra daerah" masih menjadi nilai jual yang tinggi. Padahal demokrasi bukan urusan "anak siapa dia?" "suku apa dia?" "orang daerah mana dia?" dan sebagainya, tapi demokrasi adalah urusan "apa yang bisa dialakukan untuk kemajuan sebuah wilayah?" tanpa perlu dikaitkan dengan embel-embel lain dan dirayakan dengan nuansa kekeluargaan dan primordial.

Aku masih berharap setiap kepala daerah mempunyai jiwa-jiwa super hero. Belajarlah  dari Batman dan Spiderman. Mereka berjuang dengan memakai topeng masing-masing. Tujuannya tidak lain hanya untuk menyamarkan identitas dalam perjuangan mulia yang mereka lalukan: melawan setiap kejahatan. Mereka tidak mau khalayak tau siapa mereka, dari keluarga mana mereka, dan dari golongan mana mereka. Tidak ada hasrat untuk pamer diri. Sebab mungkin bagi mereka, kebaikan cukup hanya untuk diketahui diri sendiri dan Tuhan. Artinya mereka berjuang dengan menghindari sifat riak dan sombong. Dan celakanya itu adalah ajaran agama Islam, agama yang tidak dianut Batman mapun Spiderman, tapi agama yang justru dianut oleh Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati Musi Banyuasin dan agama yang dianut oleh kebanyakan kita semua di Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Haluan Kerja HIMMASOS Periode Ketiga



8-4-2017. Selesai sudah pergantian kepengurusan Himpunan Mahasiswa Magister Sosiologi (HIMMASOS) Universitas Sriwijaya (UNSRI). Dalam kesempatan itu aku diberi amanah untuk memegang kendali organisasi yang sudah menginjak periode ketiga ini. Dengan begitu, nyatalah bahwa “bola” sudah berada di kaki ku, dan bagaimana bola ini sebisa mungkin harus semakin mendekat dengan gawang sasaran tim ini. Konkretnya, aku harus benar-benar membawa organisasi ini ke tahap yang lebih baik lagi. Beberapa kegiatan yang belum sempat terlaksanakan periode kemarin menjadi pertimbangan untuk dikerjakan pada periode kali ini. Namun mungkin tidak semuanya. Ada beberapa prioritas yang akan juga ku kejar dalam waktu yang tidak lama nanti.

Semua kegitan pada prinsipnya ku susun berlandaskan pada masalah. Baik masalah yang ada pada masyarakat, maupun (dan terkhusus) masalah yang ada di dalam internal organisasi dan kampus. Mungkin tidak akan banyak, sebab amanah ini hanyalah berumur setahun, tidak lebih, tidak juga bisa paksa untuk lebih. Bahkan bisa saja tidak sampai setahun mengingat target lulus kuliah pun tidak mungkin kuperpanjang. Tapi sudah lah, tidak perlu itu dipermasalahkan sekarang. Yang penting saat ini bola ini tidak boleh kudiamkan saja, bola ini harus kugiring maju kedepan, melewati halangan-halangan, dan pada saat yang tepat, aku harus memberi umpan sebaik mungkin kepada “pemain” di depan ku, kapan pun itu.
Ada suatu keberuntungan yang kudapati pada periode kali ini, dan rasa-rasanya keberuntungan ini akan meringankan beban kerja dalam setahun menndatang. Keberuntungan itu tidak lain adalah semangat rekan-rekan yang begitu antusias untuk segera menjalankan kegiatan. Semangat rekan-rekan itu kemudian menjadi suatu dorongan yang mengharuskan aku membuat rencana kegiatan sebaik mungkin. Dan sekali lagi semua kegiatan itu akan berlandaskan pada masalah.

Yang paling dekat tentu adalah masalah administrasi organisasi. Baik administrasi mengenai transisi kepengurusan, ataupun penyempurnaan AD/RT dan sebagainya. Hal ini juga menjadi rekomendasi dari senior dan alumni. Kemudian kegiatan juga akan menyasar masalah internal keanggotaan HIMMASOS, dalam hal ini adalah kuantitas mahasiswa yang harus semakin banyak dari tahun ketahun. Kegiatan juga akan menyentuh masalah koordinasi antara mahasiswa pascasarjana seluruh jurusan yang ada di UNSRI, maupun dengan pejabat kampus yang selama ini belum terjalin dengan baik. Tidak lupa juga mengenai perkembangain keilmuan sosiologi itu sendiri yang selama ini sudah dijalankan dengan baik, tinggal dijaga saja keberlangsungannya. Dan yang terakhir adalah berkenaan dengan pengabdian pada masyarakat yang menjadi poin paling penting bagi suatu organisasi civitas akademik.

Bagaimana bentuk kegiatan itu? Berdasarkan cara pelaksanaannya, kegiatan akan ku bagi menjadi dua bentuk yaitu: kegiatan temporer dan kegiatan berlanjut. Kegiatan temporer adalah kegiatan yang hanya dilakukan sekali itu saja, pada waktu tertentu, dan memiliki kesudahan yang jelas, misalnya: rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, seminar, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan berlanjut adalah seuatu kegiatan yang nantinya akan dikerjakan dengan sistematis, rutin, dan produktif, untuk memberi manfaat yang lebih luas daripada kegiatan temporer.

Semua memang masih konsep saja, masihlah sebuah “ruh”, belum ada “raga”nya, setidaknya sampai tulisan ini ditulis. Namun dalam hitungan hari “ruh” rencana ini haruslah dimasukan kedalam sebuah “raga” yang jelas bentuknya. Pada hari rabu tanggal 12 April nanti, ruh dan raga itu akan ditunjukan kepada seluruh rekan-rekan agar dapat diamati bersama, dan ditentukan seluruh pakaian yang pas baginya agar ia semakin sempurna sebagai sebuah wujud yang akan diberi nama “Kinerja HIMMASOS Periode 2017-2018”.

Semoga semua rencana mendapat restu dari Tuhan YME, Allah SWT sebagai penentu dari segala urusan di bumi yang terhampar ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kerugian pada Tiap Butir Nasi

29-3-2017 Ada hal yang menarik dari pengamatan disetiap tempat-tempat makan: kita akan banyak menemukan orang yang menyiakan makanannya meskipun hanya sebutir nasi. Ini fenomena sosial yang nyata. Pernah dalam beberapa kesempatan aku bertanya kepada beberapa rekan tentang perilaku tersebut. Beberapa jawaban ternyata memiliki kesepakatan: bahwa ada suatu struktur sosial ditengah masyarakat berupa nilai atau norma yang mengkonstruksi sebuah pendapat, jika makanan dihabiskan sampai tidak tersisa maka itu menandakan kerakusan dari si pemilik makanan. Dan rakus adalah sesuatu aib yang memalukan bagi tiap-tiap orang dimuka umum.


Anggaplah kita setuju bahwa “rakus” adalah sesuatu yang tidak baik, namun kita perlu diskusikan lagi, perlu rethinking tentang simbol yang mewakilinya itu. Apakah perilaku menghabiskan makanan merupakan interpretasi dari sifat yang memalukan tersebut? Jangan-jangan itu hanya sebuah anggapan yang semu, sebuah simbol-simbol yang terbentuk jauh dari makna yang sesungguhnya. Dan kita terjebak dalam sesuatu perilaku yang merugikan: merugikan secara sosial dan pasti merugikan secara ekonomi!

Agar pesan ini sampai dengan efektif, rasanya tidak perlu membuat suatu tulisan yang panjang lebar mengenai bagaimana perilaku ini erat kaitannya terhadap kerugian yang kita derita hari per hari, minggu per minggu, bulan per bulan, tahun per tahun. Seorang dosen dalam sebuah pertemuan pernah memberikan hitung-hitungan kerugian besar dari perilaku yang kita anggap sederhana itu. Begini kata beliau: anggaplah 1 Kg beras itu = 50.000 butir beras. Jika ada 150.000.000 orang Indonesia saja dalam sekali makan ia menyisakan 1 butir nasi, maka dalam sekali kesempatan kita menyianyiakan 150.000.000 butir : 50.000 = 3.000 Kg atau 3 Ton beras. Jika rata-rata kita makan 2 kali dalam satu hari, maka kerugian kita adalah 6 Ton beras/hari. Dari hitung-hitungan tersebut kita bisa membuat angka kerugian luar biasa berikutnya:

Kerugian: 42 Ton beras/minggu.
Kerugian: 504 Ton/Bulan.
Kerugian: 2.016 Ton/tahun

Meskipun luar biasa, hitung-hitungan di atas sebenarnya berdiri pada pondasi yang rentan pada “keluarbiasaan” akut selanjutnya. Ingat, angka di atas dihasilkan dari asumsi bahwa rata-rata masyarakat meninggalkan satu butir nasi. Sulit rasanya percaya bahwa memang demikian. Bagaimana jika faktanya setiap masyarakat rata-rata meninggalkan 5 butir nasi atau 10 butir nasi, atau lebih? Atau pada asumsi lain, bagaimana jika dalam 1Kg beras itu ternyata hanya terdiri dari 30.000 butir beras? Atau lebih sedikit lagi? Kita pasti makin terperanjat mengetahui bahwa kita memproduksi sebuah kemubaziran yang luar biasa itu, kemubaziran yang menghasilkan kemelaratan bagi sebagian masyarakat yang lain. Ya betul-betul kemelaratan. Harusnya makanan yang kita buang itu bisa bermanfaat bagi orang lain jika saja kita bisa melakukan efisiensi dari gaya hidup kita yang absurd ini. Dan ini lah yang kumaksud sebagai kerugian sosial itu. 

Betul bahwa kita harus tunduk pada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, namun dalam beberapa hal kita butuh memberi asupan tenaga kepada “mesin rasio” kita dalam mengkaji, menganalisis, dan mengkritisi nilai dan norma yang kurang masuk akal adanya. 

Kita tidak hidup pada lingkungan yang memisahkan antara individu dengan kelompok, yang membuat kesan bahwa yang kita lakukan tidak berdampak pada khalayak ramai. Kita hidup dalam dunia kolektifitas yang tidak bisa dipisahkan antara diri sendiri dengan kehidupan orang lain. Dengan demikian kita harusnya sadar bahwa yang kita lakukan akan memiliki dampak pada masyarakat dalam skala makro, lebih-lebih jika perilaku itu juga merupakan perilaku jutaan orang lain. Dan jika sebuah perilaku kolektif itu berwujud sebuah kemubaziran, maka kemubaziran yang luar biasa lah yang kita produksi dalam kehidupan kita.

Apa pesan dari pembahasan kali ini? Sederhana saja, pesannya adalah jangan sia-saiakan makanan. Ambilah makanan secukupnya, yang betul-betul bisa kita makan semuanya, dan tidak ada yang kita sisakan hanya untuk larut dalam nilai dan norma absurd. Sisa makanan bukan simbol yang baik, sisa makanan sungguh merupakan nikmat Tuhan yang kita acak-acak, kita aduk-aduk, dan kita buang pada serendah-rendahnya tempat.

Tidak ada yang perlu ditunggu untuk merubah suatu keburukan yang secara kontinu masih terjadi. Walaupun masalah “meninggalkan butir-butir nasi” ini terkesan sepele, tidak salah juga bagi kita untuk memberi perhatian penuh pada hal tersebut. Tidak hanya memperhatikan, bahkan saling memberi tahu dan memperingati kepada yang lainnya. Bagi pihak yang kurang tertarik karena terbiasa kritis terhadap hal-hal yang lebih besar, yang lebih serius, yang lebih angker, anggaplah ini sebuah “rekreasi” ikhtiar kita dari banyak tema besar yang perlu juga dihantam kritik pada kesempatan lainnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Pergeseran Pola Pesan Suicide

20-3-2017. Tepat tiga hari yang lalu, jagat media sosial dihentakan dengan berita bunuh diri yang ditayangkan langsung oleh pelakunya melalui media Facebook. Aku tidak akan membahas latarbelakang dan kronologi bunuh diri itu, cukup lah itu menjadi jatah dari halaman-halaman berita nasional yang sudah ada. Aku hanya akan membahas beberapa hal dasar seputar aspek sosiologi pada kasus ini.

Pertama, jika harus dikategorikan kedalam bentuk tipe bunuh diri (suicide) Emile Durkheim, maka bunuh diri yang dilakukan oleh Pahinggar Indrawan ini jelas masuk pada tipe bunuh diri anomik. Bunuh diri anomik terjadi ketika “kemapanan” sosial seseorang terganggu. Bunuh diri seperti ini sangat mungkin terjadi pada individu yang sedang mengalami perubahan sosial yang drastis. Pada kondisi tersebut, individu kehilangan kondisi sosial yang mapan, namun kondisi baru belum tercipta. Pada transisi ini lah individu yang frustasi dan sulit beradaptasi dengan kondisi sosialnya yang baru melakukan tindakan bunuh diri. Pada kasus yang sedang diperbincangkan ini, diketahui bahwa korban adalah individu yang sedang kehilangan istrinya akibat perceraian. Ini lah yang ku isitlahkan sebagai “kemapanan sosial yang hilang”. Romantisme pada masa lalu membawa dampak yang lebih serius, ketika individu yang seharusnya mengkonstruksikan kondisi sosial baru sebagai akibat guncangan-guncangan yang dihadapinya, ia lantas tidak sanggup dan mengalami depresi hebat.

Tipe bunuh diri seperti ini banyak dan mungkin terjadi pada kasus-kasus pergeseran kondisi sosial negatif lainnya, semisal guncangan ekonomi. Gelombang PHK yang besar, selain menciptakan gerombolan pengangguran, kondisi ini juga dapat memicu kasus bunuh diri anomik. Individu yang awalnya memiliki pekerjaan karena PHK lalu ia mengalami depresi ekonomi yang hebat. Kondisi ideal mengharapkan individu yang seperti ini bangkit dan mencari pekerjaan yang baru, namun pada individu-individu yang tidak mampu menciptakan kondisi yang ideal itu, ia lalu akan melakukan suicide.

Kedua. Ini bagian yang paling penting pada diskusi kali ini. Ada pergeseran pola bunuh diri dari kasus ini. Terutama pada pola peninggalan “pesan-pesan terakhir”. Sebelum era informasi saat ini, -dimana media sosial mengintervensi sebagian besar kehidupan nyata kita-, pesan-pesan terkahir yang disampaikan oleh pelaku (mungkin juga korban) bunuh diri lazimnya berbentuk surat. Namun saat ini, teknologi memberi fasilitas penyampaian pesan yang lebih dari sekedar tulisan. Pesan tertulis berubah wujud menjadi frekuensi-frekuensi suara, berubah menjadi gelombang-gelombang cahaya yang teratur membentuk citra sesungguhnya dari apa yang terjadi. Kecanggihan pun membawa citra yang sebenarnya itu dapat tayang pada waktu yang aktual pula, pada waktu yang sebenar-benarnya terjadi. Pada kondisi demikian itu, jadilah apa yang banyak diberitakan media-media dengan judul “bunuh diri live”.

Selanjutnya, pesan-pesan yang awalnya ditayangkan pada kondisi yang aktual tersebut diproduksi ulang oleh banyak orang. Video bunuh diri lalu dimodifikasi sejadi-jadinya, sedramatis-dramatisnya, dan dibuat sedalam-dalamnya menusuk hati setiap orang yang menonton tayangan itu. Ada pula yang menambahkan video dengan backsound melow, ada pula yang memodifikasi dengan cara-cara yang lain, yang intinya adalah untuk membantu pesan yang disampaikan oleh pelaku bunuh diri menjadi lebih kuat lagi, menjadi lebih menyentuh.

Aku tidak berharap kejadian seperti ini terjadi lagi. Cukuplah ini menjadi yang pertama, sekaligus menutup satu sisi gelap perkembangan era informasi saat ini. Namun harapan bukan tanpa kerisauan. Efektifnya penyampaian “pesan-pesan terakhir” melalui metode “live” itu bukan tidak mungkin ditiru oleh orang lain. Sebab, bukankah itu yang diinginkan oleh pelaku bunuh diri. Ia ingin pesannya sampai kepada orang yang ia tuju. Bahkan pada harapan yang lebih tinggi, pelaku juga ingin pesannya itu sampai pada khalayak ramai agar banyak yang tahu bagaimana kondisi yang ia hadapi, yang menyebabkan ia mengambil suatu keputusan terakhir bagi hidupnya.

Metode penyampaian pesan melalui media sosial ini nyata dengan senyata-nyatanya menggantikan efek dramatis dari sepucuk surat yang hanya berisi tulisan-tulisan puitis. Lihatlah video bunuh diri itu yang kini menjadi viral, tersaji bebas pada deretan teratas tranding topic Yuotube yang memiliki jutaan “konsumen” itu, baik dari dalam maupun luar negeri. Komentar kian hari bertambah banyak. Ada yang mengecam, namun tidak sedikit juga yang menaruh simpati, menitipkan sedihnya yang paling dalam di kolom komentar tersebut. Dan tipe komentar terkhir itu menambah suasana yang paling diharapkan andai pelaku dapat membacanya.

Kongklusi dari semua ini adalah: perkembangan jaman sedang mendapatkan tantangan baru. Setiap unit-unit sosial dari yang terkecil (keluarga), sedang (masyarakat, sekolah, komunitas), hingga yang paling besar (masyarakat dunia) harus mulai peduli. Semua unit harus mampu memberi penguatan kepada individu-individu yang berpotensi melakukan kejahatan bunuh diri seperti ini. Ya, ini betul-betul kejahatan. Setiap nyawa harusnya tidak boleh hilang begitu saja oleh siapa pun, termasuk oleh dirinya sendiri, oleh tubuhnya sendiri, dan oleh keadaan-keadaan yang paling memaksa sekalipun.

Tuhan adalah seadil-adilnya pembalas bagi setiap tindakan manusia.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Sekolah Rujukan: Kotak-kotak Pendidikan Lagi!

15-3-2017. Barusan saja aku terlihat pengkotak-kotakan pendidikan terjadi lagi di sekolah kita. Sebelumnya aku pernah mengkritisi “gawean” pemerintah yang membeda-bedakan sekolah dengan label “unggulan”. Aku risih sekali mendengar label itu, seolah-olah kualitas pendidikan yang baik hanya disekolah dengan label itu saja! Bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan komitmen kita? Bukankah kita selama ini berteriak-teriak selalu tentang pemerataan, tentang persamaan, tentang tidak membeda-bedakan perlakuan disegala kehidupan bernegara kita. Matikah komitmen itu dalam angan-angan? Dalam harapan yang tak kunjung berubah kenyataan.

Dan sekarang, pemerintah melakukan hal yang sama, hal yang lebih menyekatkan kita dalam perbedaan. Bukan perbedaan natural, bukan perbedaan yang memang secara kodrat tidak bisa kita tolak, misal: ras, suku, budaya, dsb. Tapi ini tentang perbedaan yang kita buat-buat sendiri. Perbedaan yang dibuat entah dari siapa gurunya. Jika kita belajar dari Garuda Pancasila kita, lihatlah dengan mata yang terbuka lebar-lebar pita yang dicengramnya itu? Apa bunyinya? “Bhineka Tunggal Ika” kan? Garuda kita mengajarkan bahwa janganlah kita hidup pada sekat-sekat perbedaan yang ada pada kita. Walaupun perbedaan itu tidak bisa kita hidari, sebisa mungkin kita harus merasakan persamaan di dalam batin kita masing-masing. Inilah ajaran ideoogi kita! Sebisa mungkin perbedaan itu kita buka tirainya untuk satu sama lain saling melihat, memandang, dan memahami.

Kiranya semangat ini harus terwujud dalam kita punya program-program pemerintahan. Termasuk dalam pendidikan. Program yang memberi label kepada sekolah tertentu, yang kali ini dengan label “Sekolah Rujukan” aku nilai pantas untuk disebut sebagai program yang bertentangan dengan semangat kebersamaan kita itu. Tidak diragukan lagi, sudah kubaca pula dokumen “Konsep dan Pengembangan SMA Rujukan tahun 2016” itu, dan kesimpulan ku tetap, ini tidak masuk akal. Ini program yang tidak nasionalis.

Memberi label “Sekolah Rujukan” dengan kriteria tertentu bukan lah tindakan yang bijak walaupun niatnya untuk membenahi kualitas pendidikan kita. Bahkan dalam dokumen itu sendiri, program ini bertentangan dengan semangat revolusi mental dalam bidang pendidikan. Salah satu poinnya adalah “mengubah paradigma ‘berdaya saing’ menjadi pendidikan ‘mandiri dan berkepribadian’”.

“Sekolah Rujukan” sendiri adalah program yang melebel suatu sekolah tertentu yang telah memenuhi atau melampaui Standar Pendidikan Nasional (SPN). Nantinya sekolah ini akan menjadi rujukan, menjadi arah, menjadi “kiblat”-nya bagi sekolah-sekolah yang lain di masing-masing kota yang ada di seluruh Indonesia. Lihatlah keangkuhan program ini! Dalam praktiknya, ini sekonyong-konyong membuat suatu stratifikasi antara sekolah yang superior dan sekolah yang inferior. Sekolah superior adalah sekolah yang berlebel “sekolah rujukan” itu, dan dengan sombongnya sekolah-sekolah demikian lalu memasang spanduk didepan sekolah, di mukany sekolah tentang satus istimewa yang melekat pada tubuhnya.

Label dijadikan alat merketing untuk menarik minat anak-anak pejabat, anak-anak berprestasi, anak-anak pengusaha, dan sebagainya. Sekolah lalu menjadi ekslusif, punya power yang berbeda untuk melobi dia punya kepentingan: selalu menjadi prioritas utama, menjadi sekolah yang selalu didahulukan. Ia tak ubahnya menjadi sebuah monumen cemerlang yang debu pun tak boleh hinggap di permukaan halusnya, sedang yang lain hanya menonton, dan menyaksikan keanehan pendidikan kita itu. Soal kualitas? Kualitas anak-anak disekolah seperti itu tidak perlu diragukan lagi, label “rujukan” toh sudah menarik dari berbagai penjuru anak-anak yang sudah “pinter dari sononya”. Sekolah “rujukan” tidak perlu repot-repot mengajar dan mendidik anak-anak kurang pintar lagi.

Akankah pendidikan kita yang seperti ini menarik kita pada jaman sentralisasi lagi? Dimana wilayah tertentu menjadi pusatnya untuk wilayah yang lainnya. Ataukah kita mundur kepada jamannya sebelum UUD 1945 diamandemen? Di mana kita masih mengakui bahwa MPR menjadi lembaga tertinggi negara. Bukankah kita sudah insaf bahwa bukan lembaga, bukan organ, bukan suatu objek yang boleh menjadi sesuatu yang agung, menjadi suatu rujukan. Sebagaimana kita insaf bahwa bukan MPR yang tertinggi, tapi konstitusilah yang harusnya duduk disingasana tertinggi negara. “Nilai-nilai” lah yang menjadi pedoman kita, menjadi rujukan kita untuk berperilaku. Seperti halnya pada pendidikan, bukankah kita sudah punya SPN? Cukuplah kiranya rujukan pendidikan kita adalah itu saja. Tidak perlu membuat suatu “organ”, suatu sekolah tertentu yang kita tinggi-tinggikan untuk menjadi acuan bagi “organ”/sekolah yang lain.

Perlu diingat juga bahwa kita adalah bangsa yang lahir dari semangat persamaan dan semangat kebersamaan. Kita dulu memerangi imperialisme Belanda yang erat dengan segregate superior-inferior. Lihatlah Indische Staatsregeling yang isinya membeda-bedakan antar 3 golongan di wilayah kita saat itu, yaitu: golongan eropa, timur asing, dan pribumi. Golongan eropa menjadi golongan yang superior dibanding dengan golongan yang lain, sedangkan golongan pribumi adalah golongan yang hanya mengharap belas kasih Tuhan atas kehidupannya.


Sekali lagi, label apapun yang mengangkat suatu sekolah menjadi lebih tinggi dibanding dengan sekolah lain harusnya tidak boleh terjadi. Pemerintah wajib mengupayakan kualitas pendidikan yang merata dari seluruh standar yang sudah ditetapkan. Demi masa depan bangsa, anak-anak kita harus maju bersama, pintar bersama, dan berkualitas bersama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Membaca Kembali Fikiran Ra'jat Atas Meninggalnya Kampiun Kaum Buruh

4-3-2017 Sejarah pernah mencatat, bahwa dimuka bumi, dimukanya hidup rakyat tertindas,  pernah terlahir seorang humanis yang begitu lantang berteriak perihal ketidak adilan. Ia menjadi sulut perjuangan kelas buruh di mana-mana tempat. Bahkan ia menjadi satu-satunya pemikir yang memiliki suatu gerakan politik khas dan nyata sesuai dengan namanya: Marx.

14 Maret 1883, Marx melepaskan perjuangan untuk selama-lamanya. Keterbatasan umur telah menghentikan kerongkongannya untuk berteriak menentang ketidak adilan suatu kelompok terhadap kelompok lainnya. Keterbatasan umur pula yang membuat Marx berhenti menggoyangkan tangannya untuk menyelesaikan kitab fenomenalnya: Das Kapital. 

Namun ada pula yang tidak bisa di batasi oleh umur Marx itu, yaitu berseminya semangat "persamaan kaum" yang sudah terlanjur menjangkit seluruh dunia itu.

Di Indonesia, Suakrno pun mengilhami ajaran-ajaranya itu. Banyak tulisan-tulisan yang menunjukan kepada kita bahwa semangat perjuangan The Founding Father untuk memerdekakan Indonesia itu erat dengan semangat Perjuangan Kelas Marx. 

Salah satunya adalah tulisan berikut ini. Tulisan Sukarno yang dibuat untuk memperingati 50 tahun wafatnya Marx. Kebetulan kalender hari ini menunjukan tanggal yang sama: 14 Maret 2017, 132 tahun terpaut dari kehebohan dunia saat itu atas kematian seorang pejuang rakyat jelata.

Untuk memperingati kejadian itu, maka masih relevan lah kiranya "Fikiran Ra'jat" ini kita baca kembali. 


--------------------------------

MEMPERINGATI 50 TAHUN WAFATNYA KARL MARX

F.R nomor yang sekarang ini adalah mendekati 14 Maret 1933. Pada hari itu, maka genap 50 tahun yang lalu, yang Karl Marx menutup matanya buat selama-lamanya.

Marx dan Marxisme!

Mendengar perkataan ini, -begitulah dulu pernah saya menulis-, mendengar perkataan ini, maka tampak sebagai suatu bayangan di penglihatan kita gambarnya berduyun-duyun kaum yang mudlarat dari segala bangsa dan negeri, pucat muka dan kurus badan, pakaian berkoyak-koyak; tampak pada angan kita dirinya pembela dan kampiun si mudlarat tadi, seorang ahli pikir yang ketetapan hatinya dan keinsyafan akan kebiasannya mengingatkan kita pada pahlawan dari dongeng-dongeng kuno Jermania yang sakti dan tiada terkalahkan itu, suatu manusia yang “geweldig”, yang dengan sesungguh-sungguhnya bernama “datuk” pergerakan kaum buruh, yakni Heinrich Karl Marx.

Dari muda sampai wafatnya, manusia yang hebat ini tiada berhenti-hentinya membela dan memberi penerangan pada si miskin, bagaimana mereka itu sudah menjadi sengsara, dan bagaimana jalannya mereka itu akan mendapat kemenangan: tiada kesal dan capainya (lelahnya, ed.) ia bekerja dan berusaha untuk pembelaan itu: selagi duduk diatas kursinya, dimuka meja tulisnya, begitulah ia pada 14 Maret 1883, -lima puluh tahun yang lalu (tulisan ini dimuat pada tahun 1933, ed.)-, melepaskan nafasnya yang penghabisan.

Seolah-olah mendengarkanlah kita dimana-mana negeri suaranya mendengung sebagai guntur, tatkala ia dalam tahun 1847 berseru: “E, Kaum Proletar semua negeri, kumpullah menjadi satu.” Dan sesungguhnya! Riwayat dunia belum pernah menemui ilmu dari satu manusia, yang begitu cepat masuknya dalam keyakinannya satu golongan di dalam pergaulan hidup, sebagai ilmunya kampiun kaum buruh ini. Dari puluhan menjadi ratusan, dari ratusan menjadi ribuan dari ribuan menjadi laksaan, ketian, jutaan… begitulah jumlah pengikutnya bertambah-tambah. Sebab, walaupun teori-teorinya sangat sukar dan berat bagi kaum pandai, maka “amat gampanglah teorinya itu dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara, yakni kaum melarat kepandaian yang berkeluh kesah itu”.

Berlainan dengan sosialis-sosialis lain, yang mengira bahwa cita-cita sosialisme itu dapat tercapai dengan cara pekerjaan bersama antara buruh dan majikan, berlainan dengan umpamanya: Ferdinand Lassalle, yang teriaknya ada suatu teriak perdamaian, maka Karl Marx, yang dalam tulisan-tulisannya tidak satu kali memakai kata kasih atau kata cinta, membeberkanlah paham pertentangan klas: paham klassentrijd, paham perlawanan zonder (tanpa, ed.) damai sampai habis-habisan. Dan bukan itu saja! Ilmu Dialektik Materialisme, ilmu statika dan dinamikanya kapitalisme, ilmu Verelendung, -semua itu adalah “jasanya” Marx. Dan meskipun musuh-musuhnya, terutama kaum anarkis, sama menyangkal jasa-jasanya Marx yang kita sebutkan diatas ini, meskipun lebih dulu, di dalam tahun 1825, Adolphe Blanqui sudah “menjawil-jawil” ilmu Historis Materialisme itu, meskipun teori harga lebih itu sudah lebih dulu dilahirkan oleh ahli-ahli pikir sebagai Sismondi dan Thompson, -maka toh tak dapat disangkal, bahwa dirinya Karl Marx lah yang lebih mendalamkan dan lebih menjalarkan teori-teori itu, sehingga “kaum melarat kepandaian yang berkeluh kesah itu” dengan gampang segera mengertinya.


Mereka dengan gampang mengerti, seolah-olah suatu soal yang “sudah mustinya begitu”-, segala seluk-beluknya harga lebih: bahwa kaum borjuis lekas menjadi kaya karena kaum proletar punya tenaga yang tak terbayar. Mereka dengan gampang mengerti seluk-beluknya Historis Materialisme: bahwa urusan rezekilah yang menentukan segala akal pikiran dan budi pekertinya riwayat dan manusia. Mereka dengan gampang mengerti seluk-beluknya dialektika: bahwa perlawanan klas adalah suatu keharusan riwayat, dan bahwa oleh karenanya, kapitalisme adalah “menggali sendiri liang kuburnya”.

Begitulah teori-teori yang dalam dan berat itu dengan gampang saja masuk di dalam keyakinan kaum yang merasakan stelsel (sistem, ed.) yang “diteorikan” itu, yakni di dalam keyakinannya kaum yang perutnya senantiasa keroncongan. sebagai tebaran benih yang ditebarkan oleh angin kemana-mana dan tumbuh pula dimana ia jatuh, maka benih Marxisme ini berakar dan subur bersulur dimana-mana. Benih yang ditebar-tebarkan di Eropa itu sebagian telah diterbangkan pula oleh taufan jaman ke arah khatulistiwa, terus ke Timur, jatuh di kanan kirinya sungai Sindu dan Gangga dan Yang Tse dan Hoang Ho, dan di kepulauan yang bernama kepulauan Indonesia.

Nasionalisme di dunia Timur itu lantas “berkawinlah” dengan Marxisme itu, menjadi satu nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu itikad baru, satu senjata perjuangan yang baru, satu sikap hidup yang baru. Nasionalisme-baru inilah yang kini hidup di kalangan Rakyat Marhaen Indonesia.

Karena ini, Marhaen pun, pada hari 14 Maret 1933 itu, wajiblah berseru:

Bahagialah yang wafat 50 tahun berselang!


Fikiran Ra’jat, 1933.

Sukarno

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0