Catatan Kecil Diulang Tahun Gie
17-12-2016. Sejak mengenal tokoh ini, membaca catatannya, membaca cerita-cerita orang lain yang telah mengenalnya lebih dahulu, aku semakin yakin bahwa nasionalisme tidak ada hubungannya dengan ras.
Soe Hok Gie adalah seorang keturunan Cina, tapi nasionalismenya tidak kalah hebat dengan pejuang-pejuang pribumi dulu.
Siapa yang bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa? Siapa yang pernah berdiskusi dengan Tuhan dan bernegosiasi untuk dilahirkan sebagai pribumi asli? Ras bukanlah pilihan. Manusia tidak pernah bisa memilih untuk lahir sebagai kelompok ras manapun. Kelahiran manusia mutlak menjadi hak prerogatif Tuhan YME.
Seseorang yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi disebabkan oleh dirinya sendiri. Seperti itu pula seseorang tidak memiliki jiwa nasionalisme, itu pun karena dirinya sendiri, bukan semata-mata karena atribut yang melekat pada status sosialnya.
Aku ingat ceramah ulama bijak Jumat kemarin. Dengan bahasa yang halus dan kisah yang menggugah hati, ulama itu mencoba mengingatkan umat ditengah kondisi negara yang sedang sensitif saat ini. Ulama itu mengingatkan untuk tidak melakukan dosa pertama iblis, yaitu menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia. Iblis saat itu begitu rasis. Ia membuat kasta dari perbedaan meterial antara dirinya dengan manusia. Manusia yang dibuat Tuhan dari tanah dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan mereka yang dibuat dari api. Itu lah dosa pertama iblis yang ternyata dilakukan manusia saat ini. Sering kali kita membeda-bedakan seseorang berdasarkan perbedaan fisik dan status sosial, yang tidak pernah satupun kita memilihnya.
Bagi ku, setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Setiap menuju jalan keluar itu harus melalui tahap dan proses yang sistematis. Masalah utama yang ingin diselesaikan tidak perlu dibumbui dengan pernik-pernik masalah lain. Apalagi bumbu-bumbu itu berwujud penghinaan, prasangka buruk, dan fitnah yang bernuansa rasisme.
Hati-hati terhadap provokasi, jangan sampai siapapun menjadi seperti iblis.
Vonis itu Bukan dari Pengadilan Jalanan!
Buah itu Bernama "Karakter"
15-10-2016. Pendidikan adalah proses yang sengaja dilakukan untuk mengembangkan kualitas manusia. Dalam memenuhi fungsinya itu, mula-mula pendidikan harus ditentukan tujuannya. Hal ini penting agar kita dapat menentukan mana yang harus kita lakukan dan mana yang tidak perlu kita lakukan, atau jika harus sama-sama dilakukan, mana yang lebih dahulu harus kita lakukan. Sehingga sikap dan tindakan kita terhadap pendidikan tidak keluar dari frame yang kita harapkan.
Pada pendidikan nasional, menentukan tujuan dan arah pendidikan sudah kita lakukan. Tujuan itu telah dituangkan pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 3 UU Sisdiknas jelas dikatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Kesemua yang tertera itu berlaku untuk semua tingkat pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampang pendidikan tinggi.
Mencermati tujuan pendidikan nasional di atas, kita akan menemukan kesimpulan bahwa pendidikan nasional kita berkonsetrasi pada pembentukan karakter manusianya (aspek afektif). Pengembangan Ilmu pengetahuan (kognitif) hanya menjadi sebagian kecil dari apa yang diharapkan. Sepertinya, pemerintah dan masyarakat kita sadar bahwa dari karakter yang baik itu lah semuanya dapat kita peroleh, termasuk pengembangan aspek kognitif. Dengan demikian, mudahlah bagi kita untuk melihat pendidikan mana yang bisa dikatakan berhasil dan mana yang belum berhasil. Kita tinggal melihat saja output dari proses pendidikan itu. Jika outputnya berupa manusia-manusia yang berkarakter maka proses pendidikan itu bisa dikatakan berhasil. Sebaliknya jika outputnya berupa manusia-manusia yang tidak berkarakter, maka bisa jadi ada yang salah pada proses pendidikannya.
Misalnya begini: seorang sarjana teknik, mestinya memiliki karakter yang baik dan spesifik. Sarjana teknik idealnya adalah orang-orang yang teliti dan pandai memecahkan masalah. Melihat apakah proses pendidikan di jurusan-jurusan teknik itu berjalan baik atau tidak, kita tinggal lihat saja karakter yang terbentuk pada lulusannya. Jika sesuai sengan karakter idealnya, maka pendidikan itu berhasil sebagaimana mestinya.
Contoh lain: seorang sarjana pendidikan Pancasila mestinya dapat mewarisi nilai-nilai yang sesuai dengan Pancasila, misalnya: Ia harus percaya terhadap Tuhan YME, jujur, adil, sopan-santun, pekerja keras, dan pandai berterimakasih terhadap bantuan yang pernah didapatkannya. Jika ada sarjana pendidikan Pancasila yang tidak sedemikian itu, maka dapat dipastikan ada yang salah dalam proses pendidikan yang dilaluinya.
Kita memang tidak bisa menyalahkan output yang sudah terbentuk. Yang mesti kita salahkan dan kemudian kita evaluasi adalah proses yang menyebabkan terbentuknya output yang bermasalah itu. Ibarat sebuah kebun: kita tidak bisa menyalahkan buah jeruk, ketika kita ingin memanen apel di kebun yang kita namai “kebun apel”, namun yang kita tanam justru bibit-bibit pohon jeruk. Kita harus ingat bahwa buah adalah hasil. Ia begitu tunduk dan patuh terhadap proses yang membentuknya dari awal hingga akhir. Tidak terkecuali pada “pohon” pendidikan. Ia adalah pohon yang mestnya berbuah “karakter”. Dengan proses pendidikan yang baik, kita harusnya bersiap untuk pesta panen yang begitu menggembirakan itu.
Penggadaian Ideologi
Bullying: Interaksi Pendidikan Anti Pancasila
Kemerdekaan dan Tantangan Ideologi
17-8-2016 Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71!
Rasa suka cita sedang menyelimuti seluruh masyarakat Indonesia. Hari ini kita sedang melewati jejak jejak sejarah di mana tepat 71 tahun yang lalu, negara ini memulai hidupnya sebagai negara yang merdeka dan berkedaulat.
Dalam suka cita ini, bagiku tidak salah jika kita sedikit merenungkan perjuangan negara kita sebelum akhirnya merdeka. Ingatlah bahwa bangsa kita adalah bangsa yang lahir dari hasil perjuangan. Selama kurang lebih 350 tahun, generasi sebelum kita dijajah oleh bangsa asing. Mereka, leluhur-leluhur kita, diperlakukan semena-mena di tanah airnya sendiri. Harta, tanah, keringat dan darah terus di eksploitasi oleh bangsa kolonial tanpa henti. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah pilu dan duka bagi mereka yang merasakan. Banyak anak kehilangan ibu dan bapaknya yang meninggal tanpa ditemukan jasad mereka. Istri-istri kehilangan suaminya tanpa sekecup ucapan selamat tinggal dikeningnya. Para wanita tidak lagi melihat senyum kekasihnya yang tiba-tiba hilang tanpa sepucuk surat perpisahan yang romantis. Kehilangan menjadi sesuatu yang menyeramkan. Jika boleh berpedapat, menurutku kehilangan yang seperti itulah kehilangan yang paling tragis. sangat mencekam. Orang-orang yang tertimpa kehilangan semacam itu tentu akan menjadi penyendiri. Ia akan sulit menerima orang baru di hidupnya. Sebab mengenal orang baru artinya memulai sebuah pertemuan, dan muara pertemuan adalah sebuah perpisahan: sebuah kehilangan yang baginya adalah sebilah parang besar nan tajam yang siap mencincang setiap hati yang rapuh.
Kita tidak merasakan, tapi kita bisa belajar merasakan, sebab kita bukan gunung atau pun laut, yang tidak punya rasa. Kita punya hati! Hati adalah organ yang bisa belajar tanpa mengalami. Hati bukan seperti kulit yang akan terasa sakit jika hanya benar-benar dicubit. Disinilah kita butuh ilmu sejarah. “Jas merah” kata Bung Karno. Jangan sekali sekali melupakan sejarah. Dengan sejarah, hati kita bisa belajar memahami kepiluan, kesengsaraan, dan kepedihan dari hal-hal yang kita pun tidak mau mengalaminya. Maka, hati yang menilik sejarah adalah cara belajar rasa yang paling bijaksana.
Sudah 71 tahun merdeka, artinya hampir 3/4 abad kita menikmati hasil jerih kepedihan dan perjuangan leluhur kita. Di masa sekarang, kita adalah generasi yang bertugas menjaga. Seperti menjaga pohon Durian yang sudah berbuah. Tidak perlu berjuang menanamnya, hanya mengawasi jangan sampai ada orang lain datang untuk merusak pohon tua itu. Sesekali saat menjaga pun kita mendapati reruntuhan buah yang begitu lezat. Tugas yang nikmat bukan? Tugas yang sebenarnya mudah dilakukan.
Namun, seprtinya kita sering lalai. Negara yang harusnya kita jaga ini rupanya banyak yang meminati. Bagaimana tidak, negara kita adalah negara yang kaya. Kita negara kepulauan terbesar di dunia. Barang tentu sumber daya laut kita pasti melimpah. Kita adalah negara yang memiliki pegunungan berapi terbanyak di dunia. Sudah pasti tanah kita subur. Kita adalah negara termajemuk di dunia. Tak dipungkiri pula bahwa kita adalah manusia-manusia unggul yang meski berbeda namun bisa hidup bersama. Inilah potensi-potensi yang “dicrmburui” oleh negara lain.
Serangan fisik tentu bukan cara yang dapat diambil negara lain untuk menguasai negara kita. Cara-cara seperti itu sudah di kubur dalam-dalam oleh masyarakat dunia. Lagi pula, fisik kita pun sudah kuat. Serangan fisik apapun bisa kita hadapi. Meski demikian, hasrat negara untuk menguasai kita bukanlah surut seperti surutnya sungai di musim kemarau. Semangat itu justru merasa mendapat tantangan dan semakin menjadi-jadi. Maka munculah cara-cara lain untuk merusak bangunan bangsa yang merdeka ini. Serangan-serangan itu sudah berbentuk ideologi. Ideologi yang bertransformasi menjadi virus-virus masyarakat yang mencoba mencabut akar kehidupan negara kita: Pancasila.
Lhatlah salah satu virus yang bernama “Hedonisme” itu. Budaya hura-hura yang saat ini mengancam Garuda kita. Promosinya pun kian gencar. Media massa menjadi baliho terbesar dari silaunya budaya ini. Tengok acara TV dimana anak-anak remaja tidak lagi digambarkan sebagai pelajar yang tugasnya belajar. Di media audio-visual itu remaja digambarkan sebagai sosok glamor, mengendarai kendaraan mewah, berpakaian dan betingkah sesukanya, dan dari mulutnya hanya mendialogkan urusan cinta, cinta, dan cinta. Tanyangan busuk seperti itu lalu menjadi sihir bagi banyak remaja lainnya untuk meniru sosok yang jauh dari nilai budaya Pancasila. Dari situ muncul pula perilaku turunannya seperti: individualis, apatis, penghambaan harta benda, penghambaan terhadap tubuh, dan sebagainya.
Melihat fenomena seperti itu, aku lalu teringat tulisan Ibnu Khaldun di buku Mukaddimah-nya. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa puncak dari eksistensi peradababan adalah budaya hura-hura. Jika budaya hura-hura telah masuk dan menggrogoti semua elemen masyarakat, maka sesaat setelah itulah keruntuhan bangsa terjadi. Ia mengatakan demikian dari hasil analisanya terhadap kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di dunia. Ada pola yang sama darii setiap keruntuhan kerajaan besar itu yaitu budaya hura-hura.
Jika analisa Ibnu Khaldun itu benar, maka daruratlah kita. Sebelum hedonisme itu menjalar dan meracuni seluruh masyarakat Indonesia, tugas kitalah, sebagai orang-orang yang “masih sehat” untuk menjinakan virus ini.
Kita bisa bertindak seperti bulu-bulu Sang Garuda. Jika kita bersatu dan bersinergi, maka sekali Garuda kita mengepakan sayapnya, terbanglah Garuda kita dan lewatlah seluruh ancaman didepannya. Namun jika kita tidak bersatu, kita akan terlepas satu persatu dari sayap Garuda, lalu hilanglah daya kepak Garuda kita, menjadikannya terjatuh, mati, dan bangkainya menjadi santapan predator-pedator yang sudah lama menunggu.
Momentum peringatan HUT RI seperti ini menjadi waktu yang tepat untuk saling menyemangati dalam bernegara. Kita tidak boleh mengecewakan leluhur kita. Meski kisah perjuangan mereka hanya ditaruh di musium-musium yang sepi itu dan jasad sebagian mereka tinggal terkubur di Makam Pahlawan, namun perjuangan mereka harus terpatri di hati kita sehingga kita menjadi generasi-generasi yang penuh syukur, amanah, dan bertanggung jawab.
SYUKUR
Ciptaan: Husein Mutahar
Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan
Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan
Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Kehadapanmu tuan
Idul Fitri yang Menyudahi
Merinci "News Analysis" Prof. Idi
Ide Membangun Kokoh Pilar Pendidikan
17-06-2016 Dewasa ini tidak dipungkiri bahwa pilar-pilar
pendidikan kita adalah guru. Semakin berkualitas guru-guru kita, maka semakin
berkualitas pula pendidikan, dan secara jujur, ini pun berlaku sebaliknya.








