RSS

Merinci "News Analysis" Prof. Idi


21-06-2016 Peran orang tua dalam mempengaruhi perkembangan anaknya, tidak lepas kaitannya dari proses interaksi sosial antara orang tua dengan anak. Setiap interaksi yang memiliki intensitas tinggi (termasuk interaksi yang sedang kita bincangkan ini), akan menghasilkan setidaknya 2 hal, yaitu imitasi dan sugesti. Imitasi dan sugesti ini lah yang nantiny yang akan membentuk perilaku anak, dan tentu menjadi penyebab judul News Analisys Prof. Abdullah Idi yang aku kutip ini.

Pertama, imitasi. Imitasi adalah proses di mana seseorang meniru sikap, perilaku, dan tindakan dalam kehidupan sehari hari dari orang lain. Imitasi menjadi mudah ketika orang yang ditiru memiliki dominasi simbolik yang cukup besar, seperti artis idola, atau sebut saja dalam hal Ini adalah orang tua. Setiap perilaku orang tua, baik itu yang positif ataupun negatif akan menjadi bahan perhatian anak yang kemudian anak akan cenderung meniru itu. Maka jelas, orang tua harus berupaya mengevaluasi diri untuk tetap berperilaku positif, agar orang tua dapat menjadi panutan terpantas bagi anak-anaknya.

Selanjutnya, sugesti. Sugesti merupakan proses mempengaruhi seseorang dengan ide-ide tertentu atau dengan definisi-definisi tertentu tentang suatu hal. Proses imitasi (yang dijelaskan sebelumnya) memerlukan proses sugesti seperti ini. Sebabnya adalah, agar apa yang dicontohkan oleh orang tua melalui perilaku dan pembiasaan, memiliki makna yang kuat. Makna itu yang lalu menjadi motor dalam mondorong anak untuk melakukan hal-hal positif seperti yang dilakukan oleh orang tuanya. Sugesti yang efektif juga dapat membentengi anak untuk tidak berubah dalam meniru petilaku positif orang tua.

Misalnya begini, jika orang tua ingin anaknya tidak membuang sampah sembarangan, ia harus mencontohkan perilaku itu terlebih dahulu. Contoh seperti itu kemudian dibiasakan hingga menjadi budaya keluarga. Setelah itu orang tua juga harus menjelaskan makna dari perilaku tidak membuang sampah sembarangan, yaitu agar tidak menyebabkan banjir dan tidak menjadi sumber benih penyakit. Dengan demikian, anak akan meniru perilaku yang diharapkan (tidak membuang sampah sembarangan) dan ia memiliki dasar yang kuat untuk tidak meninggalkan perilaku itu di mana pun ia berada.

Orang tua yang tidak peduli dan tidak perhatian dengan anaknya, akan membuat anak mencari orang lain yang dianggapnya baik untuk membangun jati dirinya. Beruntung jika anak menemukan orang lain itu yang memang benar-benar baik (misalnya: guru, ulama, cendikia). Kita tentu tidak perlu risau dan khawatir. Namun bagaimana jika orang lain yang dianggap “baik” itu adalah bandar narkoba? Atau preman pasar? Atau residivis begal dan curanmor? Atau artis-artis yang tidak senonoh itu? Di jaman yang semakin terbuka ini, semua kemungkinan menjadi sangat liar.

Sungguh orang tua lah yang pertama bertanggung jawab atas perilaku anaknya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar