RSS

Kemerdekaan dan Tantangan Ideologi


17-8-2016 Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71!

Rasa suka cita sedang menyelimuti seluruh masyarakat Indonesia. Hari ini kita sedang melewati jejak jejak sejarah di mana tepat 71 tahun yang lalu, negara ini memulai hidupnya sebagai negara yang merdeka dan berkedaulat.

Dalam suka cita ini, bagiku tidak salah jika kita sedikit merenungkan perjuangan negara kita sebelum akhirnya merdeka. Ingatlah bahwa bangsa kita adalah bangsa yang lahir dari hasil perjuangan. Selama kurang lebih 350 tahun, generasi sebelum kita dijajah oleh bangsa asing. Mereka, leluhur-leluhur kita, diperlakukan semena-mena di tanah airnya sendiri. Harta, tanah, keringat dan darah terus di eksploitasi oleh bangsa kolonial tanpa henti. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah pilu dan duka bagi mereka yang merasakan. Banyak anak kehilangan ibu dan bapaknya yang meninggal tanpa ditemukan jasad mereka. Istri-istri kehilangan suaminya tanpa sekecup ucapan selamat tinggal dikeningnya. Para wanita tidak lagi melihat senyum kekasihnya yang tiba-tiba hilang tanpa sepucuk surat perpisahan yang romantis. Kehilangan menjadi sesuatu yang menyeramkan.  Jika boleh berpedapat, menurutku kehilangan yang seperti itulah kehilangan yang paling tragis. sangat mencekam. Orang-orang yang tertimpa kehilangan semacam itu tentu akan menjadi penyendiri. Ia akan sulit menerima orang baru di hidupnya. Sebab mengenal orang baru artinya memulai sebuah pertemuan, dan muara pertemuan adalah sebuah perpisahan: sebuah kehilangan yang baginya adalah sebilah parang besar nan tajam yang siap mencincang setiap hati yang rapuh.

Kita tidak merasakan, tapi kita bisa belajar merasakan, sebab kita bukan gunung atau pun laut, yang tidak punya rasa. Kita punya hati! Hati adalah organ yang bisa belajar tanpa mengalami. Hati bukan seperti kulit yang akan terasa sakit jika hanya benar-benar dicubit. Disinilah kita butuh ilmu sejarah. “Jas merah” kata Bung Karno. Jangan sekali sekali melupakan sejarah. Dengan sejarah, hati kita bisa belajar memahami kepiluan, kesengsaraan, dan kepedihan dari hal-hal yang kita pun tidak mau mengalaminya. Maka, hati yang menilik sejarah adalah cara belajar rasa yang paling bijaksana.

Sudah 71 tahun merdeka, artinya hampir 3/4 abad kita menikmati hasil jerih kepedihan dan perjuangan leluhur kita. Di masa sekarang, kita adalah generasi yang bertugas menjaga. Seperti menjaga pohon Durian yang sudah berbuah. Tidak perlu berjuang menanamnya, hanya mengawasi jangan sampai ada orang lain datang untuk merusak pohon tua itu. Sesekali saat menjaga pun kita mendapati reruntuhan buah yang begitu lezat. Tugas yang nikmat bukan? Tugas yang sebenarnya mudah dilakukan.

Namun, seprtinya kita sering lalai. Negara yang harusnya kita jaga ini rupanya banyak yang meminati. Bagaimana tidak, negara kita adalah negara yang kaya. Kita negara kepulauan terbesar di dunia. Barang tentu sumber daya laut kita pasti melimpah. Kita adalah negara yang memiliki pegunungan berapi terbanyak di dunia. Sudah pasti tanah kita subur. Kita adalah negara termajemuk di dunia. Tak dipungkiri pula bahwa kita adalah manusia-manusia unggul yang meski berbeda namun bisa hidup bersama. Inilah potensi-potensi yang “dicrmburui” oleh negara lain.

Serangan fisik tentu bukan cara yang dapat diambil negara lain untuk menguasai negara kita. Cara-cara seperti itu sudah di kubur dalam-dalam oleh masyarakat dunia. Lagi pula, fisik kita pun sudah kuat. Serangan fisik apapun bisa kita hadapi. Meski demikian, hasrat negara untuk menguasai kita bukanlah surut seperti surutnya sungai di musim kemarau. Semangat itu justru merasa mendapat tantangan dan semakin menjadi-jadi. Maka munculah cara-cara lain untuk merusak bangunan bangsa yang merdeka ini. Serangan-serangan itu sudah berbentuk ideologi. Ideologi yang bertransformasi menjadi virus-virus masyarakat yang mencoba mencabut akar kehidupan negara kita: Pancasila.

Lhatlah salah satu virus yang bernama “Hedonisme” itu. Budaya hura-hura yang saat ini mengancam Garuda kita. Promosinya pun kian gencar. Media massa menjadi baliho terbesar dari silaunya budaya ini. Tengok acara TV dimana anak-anak remaja tidak lagi digambarkan sebagai pelajar yang tugasnya belajar. Di media audio-visual itu remaja digambarkan sebagai sosok glamor, mengendarai kendaraan mewah, berpakaian dan betingkah sesukanya, dan dari mulutnya hanya mendialogkan urusan cinta, cinta, dan cinta. Tanyangan busuk seperti itu lalu menjadi sihir bagi banyak remaja lainnya untuk meniru sosok yang jauh dari nilai budaya Pancasila. Dari situ muncul pula perilaku turunannya seperti: individualis, apatis, penghambaan harta benda, penghambaan terhadap tubuh, dan sebagainya.

Melihat fenomena seperti itu, aku lalu teringat tulisan Ibnu Khaldun di buku Mukaddimah-nya. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa puncak dari eksistensi peradababan adalah budaya hura-hura. Jika budaya hura-hura telah masuk dan menggrogoti semua elemen masyarakat, maka sesaat setelah itulah keruntuhan bangsa terjadi. Ia mengatakan demikian dari hasil analisanya terhadap kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di dunia. Ada pola yang sama darii setiap keruntuhan kerajaan besar itu yaitu budaya hura-hura.

Jika analisa Ibnu Khaldun itu benar, maka daruratlah kita. Sebelum hedonisme itu menjalar dan meracuni seluruh masyarakat Indonesia, tugas kitalah, sebagai orang-orang yang “masih sehat” untuk menjinakan virus ini.

Kita bisa bertindak seperti bulu-bulu Sang Garuda. Jika kita bersatu dan bersinergi, maka sekali Garuda kita mengepakan sayapnya, terbanglah Garuda kita dan lewatlah seluruh ancaman didepannya. Namun jika kita tidak bersatu, kita akan terlepas satu persatu dari sayap Garuda, lalu hilanglah daya kepak Garuda kita, menjadikannya terjatuh, mati, dan bangkainya menjadi santapan predator-pedator yang sudah lama menunggu.

Momentum peringatan HUT RI seperti ini menjadi waktu yang tepat untuk saling menyemangati dalam bernegara. Kita tidak boleh mengecewakan leluhur kita. Meski kisah perjuangan mereka hanya ditaruh di musium-musium yang sepi itu dan jasad sebagian mereka tinggal terkubur di Makam Pahlawan, namun perjuangan mereka harus terpatri di hati kita sehingga kita menjadi generasi-generasi yang penuh syukur, amanah, dan bertanggung jawab.

SYUKUR
Ciptaan: Husein Mutahar

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan

Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan

Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Kehadapanmu tuan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar