RSS

Wisuda, Mahasiswa, dan Koruptor Akademik


21-04-2016. Puncak kebahagian mahasiswa adalah saat ia wisuda. Bahagia sekali. Bangga bukan main. Aku jadi heran, bagaimana ada orang-orang yang tidak mau mendorong (untuk tidak mengatakan menghambat bahkan menghalangi) kebahaigain itu??

Bagi ku, wisuda itu tidak harus menunggu lama-lama:  5 tahun, 6 tahun. Waktu yang sia-sia. Apalagi untuk mendapatkan gelar sarjana. Cukup lah 4 tahun paling lama.

Mengapa mahasiswa wisudanya lama? Karena skripsinya belum selesai. Memang ini kesulitan besar bagi mahasiswa. Tapi bukankah dalam menyusun skripsi mahasiswa dibimbing oleh dosennya? Bahkan salah satu komponen biaya kuliah yang harus dibayar mahasiswa adalah untuk membayar dosen pembimbing skripsi. Lalu mengapa skripsi mahasiswa masih saja lama selesainya? Aku jadi teringat pepatah “tidak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya manusia yang malas. Tidak ada manusia yang malas, yang ada hanya manusia yang tidak termotivasi”.

Dalam beberapa kasus, aku berpendapat bahwa dosen pembimbing lah yang menjadi masalah lamanya mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi. Bukan apa-apa, terkadang mahasiswa sudah antusias untuk mengerjakan skripsi, tapi pembimbingnya tidak antusias. Alasannya klasik: Sibuk, kerjaan, rapat, dan sebagainya.  Aku tidak sampai pikir, mahasiswa diwajibkan membayar hanya untuk  menerima perilaku-perlikau seperti ini, bahkan dipaksa untuk memakluminya.
Yang lebih parah ketika mahasiswa mendapatkan dosen pembimbing yang tidak punya empati. Membimbing jarang, hobinya marah-marah, coret sana-coret ini tanpa memberi solusi, ditemui pun sulit. Pembimbing seperti ini yang kusebut “koruptor akademik”. Tunjangan membimbing diterima, tapi tugas membimbing mahasiswa sungkan dikerjakan.

Dari sisi-sisi inilah aku kadang membenarkan ide-ide Foucault.: Tentang kekuasaan. Bagi Foucault kekuasaan untuk melakukan sesuatu itu berasal dari dalam diri sendiri. Tidak boleh ada kekuasaan lain yang menembus tubuh manusia dan mengontrol tindakannya. Dalam relasi manusia dengan manusia lain, Foucault mempunyai istilah sendiri: relasi kekuasaan. Kekuasaan yang lebih besar lah yang mengontrol kekuasaan yang lebih lemah.

Berkaitan dengan masalah mahasiswa ini, karena mahasiswa membayar sejumlah uang untuk pembimbingnya, maka bagi ku kekuasaan dominan harus berada pada mahasiswa. Alasannya sederhana. Secara moral mahasiswa telah melaksanakan kewajibannya. Karena itu Iah Ia patut menerima haknya. Jikalaupun ada yang menghalangi haknya itu. Mahasiswa boleh memaksanya!

--------------

Hari ini temanku Wisnu wisuda. Ia menjadi bungsu dan penutup dari 9 orang anggota kelompok kami. Bahagia sekali dia hari ini. Kami pun bahagia. Tapi dibalik kebahagian itu ada kenangan-kenangan buruk Wisnu tetang koruptor akademiknya. Ia menyimpan kesal bahkan dendam dengan dosen-dosen yang menghambatnya Wisuda. Ya, sebenarnya Wisnu bisa wisuda lebih cepat dari ini. Tapi kebahagiannya itu dihalangi oleh koruptor akademiknya. Padahal masalahnya sepele, cuma karena tandatangan pembimbingnya. Skripsinya sudah selesai. Tapi gara-gara tanda tangan itu lah wisudanya terhambat 2 bulan.

Wisnu adalah sebagian kecil dari korban koruptor akademik. Aku pun mengalaminya. Kebanyakan mahasiswa pun aku kira mengalaminya juga.


Skripsi yang ku buat dulu butuh proses 1 tahun lebih, nyaris 2 tahun malah. Bahkan saat terakhir pembuatan skripsi itu, terpaksa aku harus melawan (menagih hak) sampai aku dan koruptor akademik ku bertengkar hebat. Aku tidak sepaham dengan caranya yang lambat. Bertele-tele. Caranya membimbing tidak sejalan dengan gelora hasrat ku untuk wisuda. Tidak boleh begini lah, tidak boleh begitu lah, harus ini lah, harus itu lah. Semua tidak prinsip! Beberapa kesempatan bahkan terlewat karena proses yang lambat itu. Misalnya pembukaan CPNS terakhir sebelum moratorium sampai sekarang ini. Aku terlewat momen itu. Kesal sekali rasanya.

Tapi biarlah, koruptor akademik itu sudah ketetapkan sebagai terdakwa dalam pengedilan hati nurani ku sendiri. Hukuman sudah kuberikan atas tindakannya. Lagi pula yang menentukan nasib ku bukan lah dia. Tapi Tuhan. Tuhan lebih mengerti apa yang kubutuhkan. Dan aku yakin dengan kuasa-Nya Ia telah menyiapkan hadiah atas kesabaran yang sudah kulalui itu. Aku cuma bisa berdoa, semoga terketuk hati koruptor-koruptor akademik itu. Di mana saja, di seluruh tubuh pendidikan bangsa ini.
 
Maafkan hati yang membenci ini Tuhan. Aku mencintai guru-guru ku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar