22-04-2016. Pagi tadi aku baru saja menulis sebuah puisi.
Tidak begitu bagus. Tidak juga puitis. Tapi cukuplah untuk membantu tugas adik
bungsu ku dalam rangka peringatan hari Kartini di SD-nya. Judul Puisinya “Ibu
Kartini”, beginilah kira-kira isinya:
Ibu Kartini
Ku kenal nama mu dari syair lagu itu
Lagu nan indah
Mengenang bangga dirimu
Ibu Kartini
Cantik parasmu, mulia lakumu
Menjadi Pahlawan
Untuk perempuan Indonesia
Ibu Kartini
Semangat perjuanganmu menjadi semangat ku juga
Ingin aku belajar setinggi-tingginya
Agar aku kelak hebat seperti dirimu
Berjuang untuk bangsa dan negara
Indonesia Raya
Aku bangga pada mu
Ibu Kartini
Sengaja ku buat isinya seperti itu, supaya saat membacanya, adik ku dapat
terisnpirasi dengan sosok Ibu Kartini.
Tapi aku heran dengan tugas dari gurunya ini. Setelah dibuat, puisi itu
harus dihapalkan, lalu diucapkan di depan kelas.
Aku belum pernah melihat penyair-penyair puisi menghapalkan puisinya. Yang
sering kulihat bahwa penyair itu hanya membacakan puisinya. Membaca dengan
khusuk, menjiwai, dan ber-intonasi dengan syahdu. Tak jarang aku dibuatnya
merinding. Ku kira itulah hakikat dari sebuah puisi!
Lalu kenapa anak SD harus menghapal puisinya? Bukan kah puisi tidak ada
urusannya dengan hapal/tidak hapal. Bukankah puisi merupakan pembelajaran soal
estetika bahasa?
Kenapa dihapal Ibu Guru??






0 komentar:
Posting Komentar