RSS

Belenggu Sekolah Unggul


25-04-2016. Akhir-akhir ini perhatian ku tertarik pada kekuasaan. Beberapa tokoh coba ku pahami pikirannya tentang kekuasaan. Ya walaupun belum begitu dalam, tapi lumayanlah untuk mengkaitaknnya pada realita di sekitar ku. Kupikir itu yang paling penting. Bagaimana pengetahuan yang kita peroleh -entah sedikit atau banyak- dengan itu kita bisa membawanya pada kehidupan nyata kita. Bisa jadi itu berupa kritik, namun bisa pula dipakai untuk mendukung sebuah realita yang sudah ada. Dua-duanya boleh-boleh saja.
Minggu kemarin di kelas terjadi sebuah diskusi seru tentang kekuasaan. Kekuasaan yang menjadi perhatian saat itu adalah “kekuasaan”nya Pierre Bourdieu. Bourdieu adalah salah satu dari beberapa tokoh yang mengkritik ide-ide Karl Marx.
Mengulas sedikit tentang Karl Marx. Tentu siapa yang tidak tahu dengan Karl Marx? Ia adalah tokoh evolusioner dengan grand teorinya tentang kapitalisme dan tentang kesadaran kelas. Marx mematri pokok-pokok pikirannya dalam tiga volume buku yang Ia beri judul “Das Kapital”. Tidak sedikit penganut ide-dienya itu, dan beberapa malah menjadi sangat fananik. Bahkan ide-ide Marx ini kemudian menjadi cikal bakal lahirnya komunisme.
Ide-ide yang disampaikan oleh Marx memang sangat menggugah. Ia kritis terhadap keadaan yang waktu itu sedang gempar oleh revolusi industri di beberapa negara di eropa. Akibat revolusi industri itu, masyarakat eropa mengalami perubahan yang begitu drastis. Dalam sektor pekerjaan misalnya. Revolusi industri telah merubah masyarakat eropa yang tadinya bertani/berkebun kemudian memilih menjadi buruh-buruh industri. Menuurut Marx, perubahan sosial ini lah yang membuat masyarakat terdikotomi menjadi dua kelompok: Kapital dan proletar (buruh). Marx berpendapat bahwa siapa yang memiliki modal (uang) dia dapat berkuasa atas kaum proletar.
Dalam memandang kekuasaan, Marx hanya melihat instrumen berupa uang (materi) sebagai sumber kekuasaan itu sendiri. Ini lah yang dikritik oleh Bourdieu. Bourdieu melihat cara padang Marx, terutama untuk abad ke-20 ini sudah tidak relevan lagi. Modal berupa uang tidak menjadi satu-satunya sumber kekuasaan. Ada sumber kekuasaan lain yang itu berupa non materi, misalnya: pendidikan, jabatan, status, dan sebagainya. Sumber-sumber yang tidak pernah diperhitungkan Marx itu lah yang menurut Bourdieu menjadi alat produksi kekuasaan saat ini. Begitulah penggalan inti dari ide kritik Pierre Bourdieu. Untuk lebih mendalaminya coba saja baca buku-buku karyanya.
Berbicara tentang teori kekuasaan Bourdieu, aku jadi teringat saat sekolah dulu. Aku heran kenapa ada beberapa sekolah yang orang berbondong-bondong ingin menyekolahkan anaknya di tempat itu? Atau sebaliknya bagaimana ada sekolah yang orang-orang tidak begitu antusias menyekolahkan anaknya di tempat itu? Bahasanya saat ini: kekuasaan apa yang dimiliki suatu sekolah sehingga ia memiliki kuasa untuk menarik minat banyak orang bersekolah di tempatnya?
Teori Bourdieu menjawab jelas kegelisahan itu. Ternyata sekolah memiliki alat produksi kekuasaanya sendiri. Alat produksi kekuasaan itu adalah status. Ya, setidaknya itu yang kutangkap. Status yang ku maksud adalah status formal dan status non formal (untuk menggantikan kata paradigma). Status formal jelas dapat dilihat dari akreditas sekolah. Status formal seperti ini menjadi gambaran kualitas sekolah itu sendiri. Jadi ku kira wajar saja jika sekolah dengan akreditas “A” akan menjadi pilihan banyak orang dibanding sekoah dengan akreditas dibawahnya.
Kemudian status non formal. Status ini bagi ku tidak ada kaitannya dengan kulitas, misalnya: status “elit”, “mewah”, “berkelas”, dan sebagainya. Walaupun demikian, faktanya itu juga dapat menjadi alat kekuasaan tersendiri bagi sekolah untuk menarik banyak minat masyarakat.
Aku sebenarnya tidak begitu peduli tentang kekuasaan sekolah yang demikian itu. Menurutku itu hanya pilihan saja bagi orang tua terhadap anaknya. Apalagi jika itu sekolah swasta. Sangat-sangat tidak masalah jika ada sekolah swasta yang mendominasi minat banyak masyarakat. Baik itu menggunakan staus formal maupun non formal. Semua kembali pada kebijaksanaan masyarakat untuk memilih.
Tapi, bagaimana dengan sekolah negeri? Ini yang sedikit mengusik ku. Sekarang banyak muncul sekoah-negeri di daerah-daerah yang mendominasi banyak minat masyarakatnya. Dengan status formal “sekolah unggulan” misalnya. Aku tidak melihat esensi penting pada pemberian status seperti itu selain ini merupakan langkah yang salah dalam pendidikan kita. Bukan kah seharusnya pemerintah menjamin kuallitas pendidikan yang merata bagi masyarakatnya? Lalu mengapa harus ada sekolah negeri yang lebih unggul dari sekolah negeri yang lainnya?
Disisi lain, sekolah yang diselengarakan oleh negara harusnya melayani pendidikan bagi masyarakat di sekitar sekolah itu berdiri. Sehingga masyarakat tidak harus pergi jauh untuk menyekolahkan anaknya. Tapi dengan mendikotomi sekolah menjadi sekolah biasa dengan sekolah unggul, pemerintah justru menghapus fungsi sekolah yang diselenggarakannya itu sendiri. Untuk meraih pendidikan yang berkualitas, masyarakat tetap saja harus menempuh jarak yang jauh. Tidak jarang anaknya dilepas bebas menggunakan kendaraan bermotor untuk menempuh jarak dari rumah ke sekolah. Padahal kita tahu, anak usia sekolah secara hukum belum boleh mengendarai kendaraan bermotor.
Lalu apa motivasi pemerintah yang mendikotomi sekolahnya seperti ini? Terutama pemerintah daerah. Pasca berlakunya sistem desentralisasi, pemerintah daerah lah yang bertanggungjawab atas urusan daerahnya sendiri. Termasuk dalam urusan pendidikan.
Aku jadi curiga, jangan-jangan ini hanya alibi untuk mengakali agar pemerintah daerah memperoleh keuntungan dari antusias bersekolah masyarakatnya. Sebab sekolah unggulan biasanya memungut SPP yang lebih besar dari sekolah biasa. Bahkan sekolah negeri biasa sekarang banyak yang digratiskan. Cara seperti ini juga yang akhirnya menimbulkan kesan bahwa: sekolah berkualitas hanya untuk kalangan atas!
Kalau terus begini bagaimana bisa negara ini menuntaskan janjinya untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar